Proses Pembentukan Tanah Liat secara Alami

Hampir semua tanah liat yang ada di Indonesia disebut "lempung". Lempung merupakan produk alam, yaitu hasil pelapukan kulit bumi yang sebagian besar terdiri dari batuan feldspatik berupa batuan granit dan batuan beku. Hasil pelapukan tersebut berbentuk partikel-partikel halus dan sebagian besar dipindahkan oleh tenaga air, angin dan gletser ke suatu tempat yang lebih rendah dan jauh dari tempat batuan induk. Sebagian lagi tetap tinggal di lokasi dimana batuan induk berada. Alam memproduksi tanah liat secara terus menerus, sehingga tidak mengherankan jika tanah liat terdapat dimana-mana dan jumlahnya sangat besar. Karena jumlahnya sangat besar, dapat dipastikan manusia tidak akan mampu menghabiskannya. Sesungguhnya bentuk permukaan bumi selalu berubah, terjadinya gunung-gunung, lembah-lembah, sungai-sungai, benua-benua, pulau-pulau dan sebagainya tidak dalam waktu sekejap, tetapi memakan waktu jutaan tahun.

Permukaan bumi yang kita diami sekarang ini adalah hasil pendinginan kulit bumi yang menutupi bagian dalam bumi yang masih sangat panas (magma). Ketika bumi masih dalam massa lebur, bahan-bahan berat seperti unsur logam cenderung mengendap ke tingkat terdalam. Karena proses pengendapan, komposisi kimia kulit bumi di semua bagian mendekati seragam. Semakin bumi mendingin, lapisan teratas yang disebut kulit bumi akan memadat dan membatu. Batuan yang terbentuk karena proses pendinginan disebut batuan beku (igneous rock).

A. Pembentuk Mineral-Mineral Kulit Bumi

Komposisi kimia kulit bumi yang terdiri atas batuan granit atau batuan beku sampai kedalaman ± 16 Km, adalah sebagai berikut :

SiO2 ............................... 59.14

Al2O3 ............................. 15.34

Fe2O3 + FeO ................ 06.88

CaO ................................ 05.08

Na2O .............................. 03.84

MgO ................................03.49

K2O .................................01.13

H2O .................................01.15

TiO2 ................................01.05

Lain-lain ..........................00.90

100.00

Yang menarik dari analisis kimia di atas adalah bahwa sangat sedikit oksida besi atau oksida logam lain yang membentuk kulit bumi, tetapi justru unsur-unsur silika (SiO2) dan alumina (Al2O3) paling mendominasi pembentuk kulit bumi.

Proses Terbentuknya Tanah liat Primer dan Sekunder

Tanah liat merupakan suatu zat yang terbentuk dari partikel-partikel yang sangat kecil terutama dari mineral-mineral yang disebut Kaolinit, yaitu persenyawaan dari Oksida Alumina (Al2O3), dengan Oksida Silica (SiO2) dan Air (H2O).

Tanah liat dalam ilmu kimia termasuk Hidrosilikat Alumina, yang dalam keadaan murni mempunyai rumus:

Al2O3 2SiO2 2H2O

Satu partikel tanah liat dibuat dari satu molekul Alimunium (2 atom Alumina dan 3 atom Oksigen), dua molekul Silikat (2 atom Silica) dan 2 atom Oksigen), dan dua molekul Air (2 atom Hidrogen dan 1 atom Oksigen)

Formula tersebut di atas terdiri:

39% Oksida Alumina

47% Oksida Silica

14% Air

Di alam hanya terdapat dua jenis tanah liat, yaitu:
1. Tanah liat primer

Yang disebut tanah liat primer (residu) adalah jenis tanah liat yang dihasilkan dari pelapukan batuan feldspatik oleh tenaga endogen yang tidak berpindah dari batuan induk.

Selain tenaga air, tenaga uap panas yang keluar dari dalam bumi mempunyai andil dalam pembentukan tanah liat primer. Karena tidak terbawa arus air, angin maupun gletser, maka tanah liat tidak berpindah tempat sehingga sifatnya lebih murni dibandingkan dengan tanah liat sekunder. Tanah liat primer cenderung berbutir kasar, tidak plastis, daya leburnya tinggi dan daya susutnya kecil. Karena tidak tercampur dengan bahan organik seperti humus, ranting atau daun busuk dan sebagainya, maka tanah liat berwarna putih atau putih kusam. Pada umumnya tanah liat primer bersifat tahan api. Suhu matang berkisar antara 13000C s/d 17500C.

Yang termasuk tanah liat primer antara lain: kaolin, bentonite, feldspat, kwarsa dan dolomit, biasanya terdapat di tempat-tempat yang lebih tinggi daripada letak tanah sekunder. Mineral kuarsa dan alumina dapat digolongkan sebagai jenis tanah liat primer karena merupakan hasil samping pelapukan batuan feldspatik yang menghasilkan tanah liat kaolinit.

Tanah liat dikelompokkan berdasarkan: warna, asal-usul, kegunaan, bisa dibentuk atau tidak, bila dibakar pecah atau tidak dan sebagainya.Dalam keadaan kering tanah liat primer sangat rapuh sehingga mudah ditumbuk menjadi tepung. Hal ini disebabkan bentuk partikelnya tidak seperti partikel tanah liat sekunder yang berupa lempengan sejajar, tetapi berbentuk tak simetris dan bersudut-sudut. Secara sederhana dapat dijelaskan melalui gambar penampang irisan partikel kuarsa yang telah melalui pembesaran mikroskopik.

2. Tanah liat sekunder

Tanah liat sekunder atau sediment adalah jenis tanah liat hasil pelapukan batuan feldspatik yang berpindah jauh dari batuan induknya karena tenaga eksogen, dan dalam perjalanan bercampur dengan bahan-bahan organik maupun anorganik sehingga merubah sifat-sifat kimia maupun fisika tanah liat tersebut.

Jumlah tanah liat sekunder lebih banyak dari tanah liat primer. Transportasi air mempunyai pengaruh khusus pada tanah liat, salah satunya ialah gerakan arus air cenderung menggerus mineral tanah liat menjadi partikel-partikel yang semakin mengecil. Pada saat kecepatan arus melambat, partikel yang lebih berat akan mengendap dan meninggalkan partikel yang halus dalam larutan. Pada saat arus tenang, seperti di danau atau di laut, partikel-partikel yang halus akan mengendap di dasarnya. Tanah liat yang dipindahkan biasanya terbentuk dari beberapa macam jenis tanah liat dan dari beberapa sumber. Dalam setiap sungai, endapan tanah liat dari beberapa situs cenderung bercampur bersama. Kehadiran berbagai Oksida logam seperti besi, nikel, titan, mangan dan sebagainya, dari sudut ilmu keramik dianggap sebagai bahan pengotor. Bahan organik seperti humus dan daun busuk juga merupakan bahan pengotor tanah liat. Karena pembentukannya melalui proses panjang dan bercampur dengan bahan pengotor, maka tanah liat mempunyai sifat: berbutir halus, berwarna krem/abu-abu/coklat/merah jambu/kuning, suhu matang antara 9000C s/d 14000C. Pada umumnya tanah liat sekunder lebih plastis dan mempunyai daya susut yang lebih besar daripada tanah liat primer. Setelah dibakar, warnanya menjadi lebih terang dari krem muda, abu-abu muda ke coklat. Semakin tinggi suhu bakarnya semakin keras dan semakin kecil porositasnya, sehingga benda keramik menjadi kedap air.

Dibanding dengan tanah liat primer, tanah liat sekunder mempunyai ciri tidak murni, warna lebih gelap, berbutir halus dan mempunyai titik lebur yang relatif rendah. Setelah dibakar biasanya warna krem, abu-abu muda sampai coklat muda ke tua.

Menurut titik leburnya, tanah liat sekunder dapat dibagi menjadi lima kelompok besar, yaitu: Tanah liat tahan api (Fire Clays), Tanah liat stoneware, Ball Clay, Tanah liat merah (Earthenware Clay), dan Tanah liat jenis Monmorilinit.

a. Tanah liat tahan api (Fire clays)

Sering kali berwarna terang (putih) ke abu-abu gelap menuju ke hitam dan ditemukan di alam berbentuk bongkahan padat, beberapa diantaranya berkadar alumina tinggi dan kadar alkalinya rendah. Titik leburnya mencapai suhu ± 15000C.

Yang tergolong tanah liat tahan api ialah tanah liat yang tahan dibakar pada suhu tinggi tanpa berubah bentuk, misalnya kaolin dan mineral tahan api seperti alumina dan silika. Bahan ini sering digunakan untuk bahan campuran pembuatan massa badan siap pakai, untuk produk stoneware maupun porselin.

Karena beberapa sifatnya yang menguntungkan antara lain berwarna putih, mempunyai daya lentur dan sebagainya, maka kaolin juga dipakai sebagai bahan pengisi untuk produk kertas dan kosmetik

b. Tanah liat stoneware

Tanah liat stoneware ialah tanah liat yang dalam pembakaran gerabah (earthenware) tanpa disertai perubahan bentuk. Titik lebur tanah liat stoneware bisa mencapai suhu 14000C.

Biasanya berwarna abu-abu, plastis, mempunyai sifat tahan api dan mempunyai ukuran butir tidak terlalu halus. Jumlah deposit di alam tidak sebanyak deposit kaolin atau mineral tahan api.

Dapat digunakan sebagai bahan utama pembuatan benda keramik alat rumah tangga tanpa atau menggunakan campuran bahan lain. Setelah suhu pembakaran mencapai ± 12500C, sifat fisikanya berubah menjadi keras seperti batu, padat, kedap air dan bila diketuk bersuara nyaring.

c. Ball clay

Disebut juga sebagai tanah liat sedimen, berbutir halus, mempunyai tingkat plastisitas sangat tinggi, daya susutnya besar dan biasanya berwarna abu-abu. Mempunyai titik lebur antara 12500C s/d 13500C. Karena sangat plastis, ball clay tidak dapat dibentuk sehingga hanya dapat dipakai sebagai bahan campuran pembuatan massa tanah liat siap pakai.

d. Tanah liat merah (earthenware clay)

Bahan ini sangat banyak terdapat di alam. Tingkat keplastisannya cukup, sehingga mudah dibentuk, warna bakar merah coklat dan titik leburnya sekitar 11000C s/d 12000C. Banyak digunakan di industri bata genteng dan gerabah kasar dan halus. Warna alaminya tidak merah terang tetapi merah karat, karena kandungan besinya mencapai 8%. Bila diglasir warnanya akan lebih kaya, khususnya dengan menggunakan glasir timbal.

e. Tanah liat lainnya

Yang termasuk kelompok ini adalah jenis tanah liat monmorilinit contohnya bentonit yang sangat halus dan rekat sekali. Tanah liat ini hanya digunakan sebagai bahan campuran massa badan kaolinit dalam jumlah yang relatif kecil.

Perubahan Fisika Tanah Liat Primer dan Sekunder Setelah Dibakar

Perubahan pertama yang terjadi dalam tanah liat primer maupun sekunder ketika dibakar, ialah hilangnya air bebas. Khusus untuk tanah liat sekunder akan diikuti oleh terbakarnya bahan-bahan organik lain, seperti humus, daun dan ranting yang terdapat di dalam tanah liat. Selanjutnya akan diikuti oleh hilangnya air kimia.

Tanah liat primer dan sekunder mengandung silika bebas dalam bentuk pasir, kuarsa, flint dan kristal. Silika adalah subyek untuk merubah bentuk dan volume tanah liat pada suhu tertentu. Beberapa perubahan bersifat tetap (konversi) dan yang lain bersifat dapat berubah kembali (inversi).

Agar tanah liat menjadi keramik harus melalui proses pembakaran dengan suhu melebihi 600°C. Setelah melalui suhu tersebut tanah liat akan mengalami perubahan menjadi suatu mineral yang padat, keras dan permanen, perubahan ini disebut Cheramic Change atau perubahan keramik. Tanah liat yang dibakar kurang dari 600 %C belum memiliki kematangan yang tepat walaupun sudah mengalami perubahan keramik, kematangan tanah liat atau vitrifikasi adalah kondisi keramik yang telah mencapai suhu kematangan secara tepat tanpa mengalami perubahan bentuk. Pada pembakaran di bawah suhu 8000C, mineral silika bebas (seperti mineral carbonat) akan berubah pula. Hal ini merupakan akibat dari terbakarnya semua unsur karbon (proses kalsinasi).

Perubahan fisika terjadi di atas suhu 8000C yaitu pada saat bahan-bahan alkali bertindak sebagai ‘Flux’ atas silika dan alumina yang membentuk sebuah jaringan kristal (mulia) dan gelas yang mengikat bahan-bahan yang tidak dapat dilarutkan menjadi suatu massa yang kuat (pembakaran biskuit).

Saat tanah liat dibakar pada suhu ± 13000C beberapa perubahan akan terjadi, misalnya badan menjadi lebih keras ketika mendingin dan menjadi kedap air. Tanah liat tersebut telah mengalami proses ‘Vitrifikasi’ artinya sebagian besar material, khususnya silika telah menggelas, memasuki pori-pori dan mengikat semua partikel tanah liat dengan membentuk ikatan yng dikenal sebagai ikatan ‘Alumina Silika Hidroksida’.

Proses vitrifikasi ini disertai dengan penyusutan volume, dimana semakin tinggi suhu bak semakin besar penyusutan tetapi semakin rendah porositasnya atau dengan kata lain benda semakin padat dan kedap air.

Tanah liat yang tidak ‘vitrifikasi’ pada suhu tinggi (± 13000C) dapat digolongkan ke dalam jenis tanah liat ‘tahan api’ (refractory clay).

Setiap tanah liat dapat dilebur bila suhu bakarnya cukup. Idealnya setiap jenis tanah liat mempunyai titik vitrifikasi tanpa terjadi perubahan bentuk (deformasi). Dalam praktik, vitrifikasi seringkali diikuti dengan perubahan bentuk. Hal ini terjadi karena adanya tegangan-tegangan bagian benda yang terlemah akibat dari meleburnya mineral-mineral tanah liat.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembakaran

· Jangan membakar tanah liat terlalu cepat karena tanah liat tersebut akan meledak berkeping-keping atau retak-retak. Hal ini disebabkan tidak cukup waktu bagi plastisitas air untuk menguap.

· Proses pendinginan jangan dilakukan secara cepat, karena ada delapan titik rawan (lihat uraian inversi silika 1 s/d 8) dimana benda tanah liat mengalami perubahan volume yang seringkali sangat mendadak. Pendinginan mendadak menyebabkan satu permukaan akan lebih panas daripada permukaan lain, sehingga yang satu volumenya berubah dan yang lain tidak.

Faktor inilah yang menyebabkan tanah liat yang dibakar pecah. Oleh karena itu sebaiknya proses pendinginan harus dilakukan selambat dan semerata mungkin untuk mencegah pecahnya barang. Kesalahan ini akan jarang terjadi bila tungku tidak dibuka sebelum suhu di dalam tungku turun sampai suhu 100°C.
F. JENIS, SIFAT DAN FUNGSI TANAH LIAT DAN BAHAN LAIN

Jenis, sifat dan fungsi tanah liat dan bahan lain dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:

1. Tanah liat (bahan plastis)
a. Kaolin

Disebut juga China clay adalah tanah liat primer yang berfungsi sebagai komponen utama dalam membuat campuran porselin, dan digunakan dalam keramik stoneware dan earthenware.

Kaolin berfungsi untuk pengikat dan penambah kekuatan pada suhu tinggi, juga digunakan dalam pembuatan glasir sebagai bahan pengeras. Titik leburnya tinggi yaitu kurang lebih 18000 C. Kaolin mempunyai bersifat tidak plastis (plastisitas rendah).
b. Ballclay


Termasuk jenis tanah liat sekunder yang mempunyai tingkat plastisitas yang tinggi dan berbutir halus sehingga penyusutannya tinggi kurang lebih 20 % dan melebur pada suhu 13000 C. Dalam pembuatan badan keramik Ball clay berfungsi sebagai penambah plastis sedangkan dalam glasir sebagai pengikat.

c. Stoneware

Bahan tanah liat yang refraktoris bersifat plastis, penyusutan rendah dan berbutir halus, banyak digunakan untuk membuat benda keramik stoneware dan dalam glasir dapat berfungsi sebagai pengikat dan pewarna.

Stoneware akan menghasilkan benda yang padat apabila dibakar suhu 12500 C - 13000 C.
d. Earthenware

Tanah liat yang mudah ditemukan dan sangat plastis, berbutir halus dengan kandungan besi yang cukup tinggi, berfungsi dalam pembuatan benda keramik earthenware dan dapat digunakan sebagai pewarna pada glasir. Tanah liat Earthenware tahan pada suhu 11000 C. Dengan keplastisannya tersebut tanah liat earthenware juga mempunyai tingkat penyusutan yang tinggi pula.
e. Fireclay

Jenis tanah liat yang tahan terhadap panas dantidak berubah bentuk, mempunyai titik lebur yang tingi 16000 C - 17500 C.

Fireclay berfungsi sebagai bahan untuk pembuatan barang refractory seperti bata tahan api, perlengkapan tungku, dalam badan keramik untuk menambah kemampuan bentuk.

Sifat Fireclay tidak plastis, absorsi rendah, penyusutan menengah, butiran kasar.

f. Bentonite

Bentonite juga termasuk tanah liat yang sangat plastis dan berbutir halus sehingga digunakan untuk menambah keplastisan badan keramik dan dalam glasir berfungsi sebagai pengikat, mempunyai titik lebur 12000 C.

2. Bahan tidak plastis

a. Kwarsa/Silica

Kwarsa merupakan bahan yang mempunyai sifat tidak plastis sehingga apabila digunakan untuk membuat badan keramik akan mengurangi tingkat plastisitas dan penyusutannya, serta untuk menambah kemampuan bentuk dan pengeras, sedangkan dalam glasir berfungsi sebagai penggelas. Kwarsa/Silica titik leburnya tinggi yaitu 16000 C.
b. Feldspar

Dihasilkan dari pelapukan batuan granit dan lava (igneous rock) dimana tanah liat itu terbentuk. Feldspar terdiri dari berbagai jenis maka dapat dikelompokan menjadi :

· Potash Feldspar

· Sodium Feldspar

Bahan ini sangat penting dalam industri keramik sebagai bahan yang tidak plastis sehingga dapat berfungsi untuk mengurangi penyusutan pada waktu proses pengeringan dan pembakaran, juga berfungsi sebagai flux (peleleh) pada suhu di atas 12000C. Titik leburnya antara 11700C - 12900C.

Feldspar berfungsi dalam pembuatan benda keramik pecah belah, stoneware, porselin, dan juga bahan untuk membuat glasir.

c. Whiting (Calcium Carbonate)

Digunakan pada campuran tanah liat bakaran suhu rendah dan menengah yang berfungsi sebagai flux yaitu untuk menurunkan suhu bakar.

d. Dolomite

Merupakan bahn kombinasi antara Calcium Carbonate dengan Magnesium Carbonate Yang berfungsi sbagai flux atau penurun suhu dalam campuran tanah liat, bahan ini termasuk bahan yang tidak plastis.

e. Alumunium

Di dalam keramik unsur ini terdapat didalam Kaolin, Ballclay, Feldspar. Dalam glasir berfungsi untuk menontrol dan mengimbangi pelelehan dan juga memberikan kekuatan pada badan keramik dan glasir.

Unsur Kaolin akan memberikan Al2O3 (tidak plastis tetapi cukup murni) sedangkan Ballclay akan memberikan Al2O3 dan plastisitas (plastis tetapi tidak murni)

f. Talc

Merupakan campuran Magnesium Silicate Hidrosid yang mempunyai formula 3MgO 4SiO2 H2O.

Berfungsi sebagi flux pada bakaran rendah dan menambah daya rekat glasir pada badan keramik sekligus mencegah timbulnya keretakan pada glasir.

g. Grog.

Grog adalah bahan tanah liat yang telah dibakar biskuitdan kemudian digiling halus, memunyai butiran halus sampai kasar, berfungsi untuk mengurangi plastisitas dan penyusutan dalam badan benda keramik.

Persyaratan bahan yang harus diperhatikan

Dalam pembentukan benda keramik dengan berbagai keteknikan membutuhkan tanah liat yang betul-betul harus memenuhi persyaratan sebelum digunakan. Untuk itu diperlukan suatu pengujian setiap jenis tanah liat, untuk mengetahui plastisitas, kemampuan bentuk, susut kering dan susut bakar, suhu kematangan (vitrifikasi) serta porositasnya, karena hal ini akan sangat berpengaruh pada waktu proses pembentukan dan juga hasil akhirnya. Keberhasilan atau kegagalan dalam membuat benda keramik akan tergantung pada bagaimana melakukan proses tersebut di atas.

Agar tanah liat dapat digunakan untuk membentuk benda keramik maka harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1. Sifat plastis

Sifat plastis atau plastisitas tanah liat merupakan kualitas hubungan antara partikel tanah liat yang ditentukan oleh kandungan mineral dan kehalusan butiran tanah liat.

Plastisitas berfungsi sebagai pengikat dalam proses pembentukan sehingga benda yang dibentuk tidak akan mengalami keretakan/pecah atau berubah bentuk. Sifat plastis ini merupakan persyaratan utama yang harus dipenuhi untuk membentuk benda keramik.

Bertambahnya plastisitas tanah liat akan bertambah sulit dibentuk, untuk itu harus ditambah bahan-bahan yang akan mengurangi keplastisannya. Demikian juga sebaliknya apabila tanah liat kurang plastis juga akan sulit dibentuk maka harus ditambahkan bahan-bahan yang plastis.

2. Memiliki kemampuan bentuk

Tanah liat juga harus mempunyai kemampuan bentuk yaitu kualitas penopang bentuk selama proses pembentukan berlangsung yang berfungsi sebagai penyangga.

Tanah liat yang memiliki kemampuan bentuk akan berdiri sendiri tanpa mengalami perubahan bentuk sewaktu proses pembentukan berlangsung dan setelah pembentukan selesai.

Tanah liat akan mudah dibentuk dan akan tetap mempertahankan bentuknya apabilamempunyai plastisitas dan kemampuan bentuk yang baik, maka dapat dikatakan bahwa tanah liat tersebut memiliki daya kerja.

3. Susut kering dan susut bakar

Tanah liat dalam keadaan plastis masih mengandung air sehingga mudah dibentuk menjadi benda keramik dan setelah kering akan terjadi penyusutan pada benda keramik tersebut, hal ini terjadi karena menguapnya air pembentuk dan air selaput pada badan dan permukaan benda keramik sehingga menyebabkan butiran-butiran tanah liat menjadi rapat.

Tanah liat akan mengalami dua kali penyusutan, yaitu penyusutan yang terjadi dari keadaan basah menjadi kering yang disebut susut kering dan penyusutan yang terjadi pada waktu proses pembakaran yang disebut susut bakar. Jumlah presentase penyusutan (susut kering dan susut bakar) yang dipersyaratkan sebaiknya antara 5 % - 15 %. Tanah liat yang terlalu plastis biasanya memiliki persentase penyusutan lebih dari 15 %, sehingga apabila tanah liat tersebut dibentuk akan memiliki resiko retak atau pecah yang tinggi.

4. Suhu kematangan (vitrifikasi)

Suhu bakar keramik berkaitan langsung dengan suhu kematangan, yaitu keadaan benda keramik yang telah mencapai kematangan secara tepat tanpa mengalami perubahan bentuk.

Agar tanah liat menjadi keramik, maka tanah liat yang telah dibentuk tersebut harus melalui proses pembakaran dengan suhu melebihi 6000C. Setelah melalui suhu tersebut tanah liat akan mengalami perubahan menjadi suatu mineral yang padat, keras dan permanen, perubahan ini disebut Cheramic Change atau perubahan keramik. Tanah liat yang dibakar kurang dari 6000C belum memiliki kematangan yang tepat walaupun sudah mengalami perubahan keramik, kematangan tanah liat atau vitrifikasi adalah kondisi keramik yang telah mencapai suhu kematangan secara tepat tanpa mengalami perubahan bentuk. Untuk itu sebelum melaksanakan proses pembakaran benda keramik harus diketahui lebih dahulu jenis tanah liat yang digunakan untuk membentuk benda keramik tersebut. Suhu kematangan tanah liat mempunyai jarak antara (range) yang cukup lebar, biasanya antara 500C - 2000C.

5. Porousitas

Sifat porous tanah liat merupakan sifat penyerapan air oleh badan benda keramik atau bisa dikatakan tingkat kepadatan badan benda keramik setelah dibakar. Sifat porousitas ini juga sangat penting karena dengan adanya sifat ini akan memungkinkan penguapan air pembentuk maupun air selaput tersebut keluar pada waktu proses pengeringan dan pembakaran.

Dalam proses pengglasiran sifat ini juga berpengaruh terdapat penyerapan bahan glasir pada benda keramik sehingga akan memiliki daya rekat sebelum proses pembakaran dilaksanakan.


PROBLEM BADAN TANAH LIAT DAN PEMBETULANNYA

No

Problem

Pembetulannya

1

Terlalu lengket

Kurangi Ballclay atau tambahkan Fireclay

2

Terlalu berpasir

Disaring atau gunakan sedikit tanah liat berpasir atau grog

3

Kurang plastis

Tambahkan Ballclay atau Bentonite

4

Penyusutan tinggi

Kurangi Ballclay atau earthenware dan tambahkan Fireclay

5

Hasil bakarnya rapuh

Bakarlah pada temperature yang lebih rendah, tambahkan Kaolin dan Silica/Kwarsa

6

Pada temperatur rendah sudah mengkaca

Tambahkan Kaolin atau Silica/Kwarsa

7

Warna terlalu gelap

Kurangi bahan-bahan pewarnya, ganti dengan Fireclay, atau tambahkan dengan bahan tanah liat yang muda warnanya

8

Warna terlalu terang atau muda

Tambahkan dengan bahan-bahan pewarna


















Sumber tulisan:


Ambar Astuti. 1997. Pengetahuan Keramik. Yogyakarata: Gadjah Mada University Press.

John W. Conrad, Ph.D. 1980. Contemporary Ceramics Formulas. New York: Macmillan Publishing Co. Ltd.

Frank and Janet Hamer. 1997. The Potter's Dictionary of Materials and Techniques. London: A & C Black.

Melanie Jones. 1994. Pottery -A Step by Step Guide to The Craft of Pottery. London: Merehust Limited.

Robert Fournier. 1986. Illustrated Dictionary of Practical Pottery. New York: Prentice Hall Press.

Bengkel keramik PPG Kesenian Jogja